Waketum Gerindra : Pembobolan Dana Jiwasraya Lebih Bombastis Dari Skandal Century, Sebaiknya Bentuk Pansus DPR !

Spread the love

 

 

JAKARTA – Fokus flash.id – (24/12) – Arief Poyuono,
Wakil Ketua Umum DPP Gerindra menyampaikan dan angkat bicara meminta agar persoalan lebih terang benderang serta jelas semuanya terkait pembobolan dana masyarakat Indonesia dan luar negeri yang ada di Jiwasraya. Demikian utaranya menyampaikan pernyataan singkatnya di Jakarta. Selasa (24/12).

 

Oleh karena itu, menurut Arief agar semua menjadi terang benderang sebaiknya DPR membentuk pansus DPR untuk mengungkap pembobolan Jiwasraya yang jumlah melebih sedari pembobolan bank century, tukasnya

 

“Dan kita coba apakah Pimpinan baru KPK dan Dewas KPK berani nantinya mengungkap kasus Jiwasraya yang jauh lebih bombastik dana yang dijebol melebih dana bank century yang hanya 8 trilyun,” ujarnya.

 

“Pembentukan Holding Asuransi yang diajukan Menteri BUMN sebagai cara mengatasi pembobolan Jiwasraya itu hanya kamuflase, karena BUMN asuransi lainnya juga lagi banyak bermasalah saat ini,” kemukanya.

 

Selain itu, serta adanya perusahaan pribadi milik seorang Menteri BUMN yang melantai dibursa saham yang mendekati persiapan Pilpres 2019 mulai bulan 11 /2018 hingga bulan 5 /2019 volume saham, menurut petinggi Partai Gerindra itu menjelaskan bahwa yang terjual sangat tidak wajar emiten tersebut berkode ABBA.

 

Arief berharap mudah mudahan tidak ada dana dari Jiwasraya yang mengalir ke dana pemenangan Pilpres Joko Widodo Maruf Amin, dimana apalagi TKN diketuai oleh Erick Tohir dan wakilnya Muldoko, paparnya.

 

“Adapun dua sosok yang tersambar namanya dengan adanya kasus jiwasraya di media massa,” ucapnya

 

Di samping itu, terkait persoalan tersebut Ungkap Arief menilai ada praktik perkoncoan dalam menggunakan dana nasabah produk investasi plus asuransi. Dimana, kala itu Hendrisman Rahim yang duduk sebagai Direktur Utama dan Hary Prasetyo sebagai direktur keuangan dituding pemantik gagal bayar Jiwasraya saat ini.

 

“Saat itu Jiwasraya di era Hendrisman, diduga serampangan dalam berinvestasi,” paparnya.

 

Di lantai bursa, misalnya, saham-saham yang diborong Jiwasraya bukanlah saham likuid yang konsisten naik. Saat ini, dua emiten yang sahamnya digenggam Jiwasraya di atas 5% adalah PP Properti (PPRO) dan Semen Baturaja (SMBR). Sebelumnya ada TRAM, IIKP, MTFN, ABBA, SMRU.

 

“Belum lagi direkrutnya Hary Prasetyo Mantan Direktur keuangan Jiwasraya menjadi staff KSP oleh Muldoko di pertengahan Juni 2018, inilah patut diduga ada benang merah dengan dimulainya pembobolan Jiwasraya,” imbuhnya.(Sony)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *