Partisipasi Pembangunan Daerah Periode 2018-2019

Spread the love

TANGSEL- Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Tangsel, secara resmi memang belum menetapkan pasangan calon (Paslon) di Pilkada Tangerang Selatan (Tangsel) yang akan berlangsung pada 9 Desember 2020 mendatang. Meski demikian, masyarakat Tangsel sendiri saat ini, sudah tahu bahwa, pada perhelatan Pilkada Tangsel, hanya akam ada tiga Paslon yang akan ikut berkontestasi. Pertama, pasangan Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan, Kedua, Muhamad-Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, dan Ketiga, Siti Nur Azizah-Ruhamaben.

 

Berbeda dengan Kota Solo, Medan dan lainnya, dinamika politik di Pilkada Tangsel saat ini kondisinya berjalan semakin dinamis dan panas. Bila dianalogikan seperti ‘Gunung’, Pilkada Tangsel ini situasinya seperti ‘Kawah’. Begitu juga bila dianalogikan seperti ‘Lautan’, kondisinya seperti ‘Deburan Ombak’, selalu bergemuruh. Kiranya dua analogi ini pas dan tepat disematkan, ketika melihat dinamika politik yang terus berjalan dinamis di kota yang ber-motto Cerdas, Modern, Religius (Cimor) tersebut.

 

Kondisi yang terus dinamis ini terjadi tentu saja disebabkan karena banyak hal. Selain karena Tangsel ini merupakan daerah pinggiran kota, yang menjadi penyangga antara dua provinsi DKI dan Banten. Faktor Paslon yang tampil juga, menjadi salah satu indikator penting untuk dilihat dan dicermati. Artinya, semua calon-calon yang akan tampil, tentu bukan orang ecek-ecek, apalagi ‘Kaleng-Kaleng’ bila meminjam istilah anak zaman now. Semua Paslon yang dipasang untuk ikut Pilkada di Tangsel mempunyai ‘Trah’ yang berasal dari golongan ‘Ningrat’.

 

Adu ‘Trah’

 

Seperti misalnya, Pilar Saga Ichsan, bakal calon (Balon) Wakil Walikota Tangsel, yang berpasangan dengan Benyamin Davnie. Terlepas Pilar Saga Ichsan ini tergolong sebagai orang baru dalam politik, atau ‘Anak Ingusan’ dalam istilah anak gaul disebut. Sosok Pilar Saga Ichsan, di Pilkada Tangsel ini tidak bisa diremehkan apalagi dianggap sebelah mata. Pertama, Ia adalah keponakan Tubagus Chairu Wardana (TCW) suami Airin Rachmi Diany, yang saat ini masih menjabat sebagai Walikota Tangsel.

 

Ini artinya, bicara soal sosok Pilar Saga Ichsan, maka secara tidak langsung, kita bicara tentang kekuatan Airin Rachmi Diany, begitu juga ketika kita bicara Airin Rachmi Diany, tentu saja kita bicara soal ‘Trah’ Keluarga Besar ‘Rau’. Kenapa demikian ?. Karena bagaimana pun Airin Rachmi Diany duduk sebagai Walikota Tangsel selama dua periode (10 tahun), tidak bisa dilepaskan dari kekuatan TCW, yang saat ini menjadi pimpinan gerbong Keluarga Besar ‘Rau’.

 

Kebesaran nama seorang H. Tubagus Chasan Sochib di Banten saat ini turun ke TCW, sebagai putra kandungnya. Sosok H. Tubagus Chasan Sochib di mata orang Banten bagian Utara maupun Selatan, adalah sosok penting. Bahkan orang Banten sendiri menyematkan nama H. Tubagus Hasan Sochib sebagai sosok orang ‘Kahot’ (Kuat). Sosok ‘Abah’ demikian nama biasa dipanggil, punya banyak loyalis dan pendukung ideologis.

 

Sementara nama ‘Rau’ sendiri adalah nama yang diambil dari sebuah nama pasar yang letaknya berada di kabupaten Serang-Banten. Perlahan nama ini bergeser dan melebar secara makna, menjadi sebuah nama gerbong politik di Banten. Terlepas gerbong ‘Rau’ dalam pemerintahan saat ini mendapat pandangan yang kontroversial, yang harus dan perlu dicatat adalah, gerbong ‘Rau’ di Banten mempunyai akar yang kuat. Diakui atau tidak, gerbong ‘Rau’ sendiri telah memberikan andil yang besar dalam pembangunan di Banten, terutama di Kota Tangsel, melalui kepemimpinan Airin Rachmi Diany sebagai Walikota Tangsel selama dua periode.

 

Oleh karena itu, secara infrastruktur politik, gerbong ‘Rau’ ini sudah mempunyai basis massa yang jelas, ideologis dan loyal. Begitu juga dengan posisi Tangsel saat ini, suka atau tidak, saat ini secara kendali Tangsel sendiri dibawah kendali gerbong ‘Rau’. Tentu saja, hal ini menjadi nilai plus dan modal besar untuk gerbong ‘Rau’ tetap bisa mempertahankan kekuasaan di Tangsel. Melalui Pilar Saga Ichsan Saga, terlepas saat ini, posisi Pilar Saga Ichsan dipasang sebagai orang nomor dua di Tangsel. Itu adalah persoalan lain.

 

Begitu juga dengan Rahayu Saraswati, bakal calon Wakil Walikota yang mendampingi mantan Sekertaris Daerah (Sekda) Tangsel Muhamad, yang saat ini juga menjadi bakal calon Walikota Tangsel. Meskipun Ia sendiri adalah orang baru di Tangsel. Namun secara politik, Ia sudah mempunyai pengalaman. Sebab, sebelum Ia terjun ke panggung Pilkada, Ia adalah mantan anggota DPR. Oleh karena itu, kehadiran Saraswati di Pilkada Tangsel ini tidak bisa diremehkan dan dianggap sebelah mata.

 

Selain itu, selain Ia adalah keponakan Prabowo Subianto, mantan Capres RI yang saat ini menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) di Kabinet Indonesia Maju. Ia juga lahir dari keluarga besar berlatar belakang pengusaha. Apalagi saat ini, koalisi pendukung Saraswati di Pilkada Tangsel ini, adalah partai yang saat ini menjadi bagian penting di Istana. Tentu ini menjadi nilai plus, sekaligus modal utama untuk pasangan Muhamad-Rahayu Saraswati, bisa merebut kekuasaan di Tangsel.

 

Hal yang sama juga berlaku untuk Siti Nur Azizah (SNA) bakal calon Walikota Tangsel yang berdampingan dengan Ruhamaben. Sama seperti Pilar dan Saraswati, SNA sendiri merupakan orang baru, baik di Tangsel maupun di politik. Namun demikian, kehadiran SNA dalam kontestasi Pilkada Tangsel, tidak bisa juga dianggap remeh. Bermodalkan nama besar seorang ‘Bapak’ bernama KH. Ma’ruf Amin, Wakil Presiden. SNA sangat berpeluang menjadi lawan tanding sepadan Benyamin-Pilar dan Muhamad-Saraswati di Pilkada Tangsel.

 

Sebab, mau bagaimana pun Ma’ruf Amin, bagi orang-orang Nahdhatul Ulama (NU), Ia adalah seorang Kiai yang di tokohkan di NU. Sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, NU sendiri mempunyai karakter dan tradisi, dimana mereka sangat patuh dan tunduk pada nasihat, saran dan arahan Kiai. Begitu juga soal pilihan politik, ada kecenderungan untuk sama dengan pilihan Kiai. Pola-pola seperti ini di NU sudah menjadi sebuah tradisi yang mendarah daging. Tradisi ini bisa disebut orang NU, sebagai tradisi ‘Manut’ atau dalam istilah lain bisa juga disebut ‘Ikut Perintah’ dan ‘Ikut Arahan’. Doktrin ‘Takut Durhaka Pada Kiai’ sangat melekat di NU. Pada konteks Pilkada Tangsel, SNA sangat bisa melakukan pola-pola seperti ini.

 

Rebutan Tangsel

 

Bila kita melihat tiga Paslon, yang akan berlaga di Tangsel, semuanya bisa dikatakan sebagai pasangan yang kuat. Semuanya mempunyai kans untuk bisa menang. Meskipun semua hasil lembaga survei menyebutkan bahwa, pasangan Benyamin-Pilar Saga Ichsan secara popularitas berada diurutan pertama, dan itu berpeluang tinggi untuk bisa menang di Tangsel.

 

Namun itu semua itu belum bisa dianggap sebagai ukuran mutlak. Sebab, bagaimana pun, saat ini dinamika politik Pilkada Tangsel masih terus berjalan dinamis. Begitu juga ketika ada banyak pendukung Paslon yang melakukan deklarasi mendukung Paslon, dalam bentuk relawan atupun lainnya, itu semua tidak bisa menjadi ukuran dan jaminan, bagi kemenangan calon. Sebab, kehadiran relawan maupun pendukung masih bisa berubah dan sangat berpotensi berubah. Pada Pilkada Tangsel saat ini, semuanya tidak ada yang ideologis.

 

Tiga Paslon yang saat ini akan ikut berkontestasi, baik Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan, Muhamad-Rahayu Saraswati maupun Siti Nur Azizah-Ruhamaben. Pada prinsipnya secara politik, bisa dikatakan semuanya siap bertarung. Sebab, semuanya paslon-paslon yang saat ini akan beradu tanding semuanya  mempunyai modal yang kuat. Baik modal secara ‘Trah’ maupun modal secara dukungan parpol. Namun, yang terpenting untuk dilakukan oleh para paslon adalah menghadirkan gagasan-gagasan dalam bentuk program-program, untuk kemajuan dan pembangunan Tangsel. Semua Paslon harus tampil dan menghadirkan narasi-narasi brilian untuk Tangsel agar menjadi lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *